Menurut Kantor Berita ABNA, Webinar Internasional dengan tema "Syahid Qasem Soleimani Model Dunia Islam dalam Perang Melawan Arogansi dan ekstremisme" terselenggara pada Minggu (2/1) oleh Sekretariat Kongres Dunia Melawan Ekstremis dan Arus Takfiri dengan menghadirkan sejumlah pemikir dan cendekiawan dunia Islam dari beberapa negara yang bertepatan dengan dua tahun syahidnya Panglima Korps Brigade Alquds Iran Jenderal Qasem Soleimani.
Deputi Hubungan Internasional Hauzah Ilmiah Qom Iran Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Mofid Hosseini Kouhsari selaku salah seorang pembicara dalam webinar internasioal tersebut mengatakan, "Hari ini kita berada dalam titik balik sejarah yang penting. Kita berada di awal pembentukan peradaban Islam baru dan kita membutuhkan tokoh-tokoh untuk membentuk sebuah peradaban tersebut. Kehadiran Syahid Qassem Soleimani menurut hemat saya, memperlancar terbentuknya peradaban Islam baru tersebut."
Lebih lanjut Sayid Kouhsari menyebutkan bahwa syahid Haji Qasem Soleimani adalah suri tauladan yang berkepribadian beradab. "Syahid Soleimani telah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern; Dia adalah seorang ahli dan percaya pada Tuhan dan selalu mengandalkan Tuhan. Syahid Soleimani adalah kombinasi dari kejeniusan pribadi dan kerja tim."
Ia juga melanjutkan, "Syahid Qassem Soleimani meskipun dia adalah seorang patriot dengan keyakinan Syiah, tetapi dia memberikan perhatian khusus kepada umat Islam dan semua mazhab Islam. Dia adalah sosok yang beradab dan dia memiliki emosi dan rasionalitas. Soleimani memiliki tingkat rasionalitas tertinggi dan merupakan orang yang memiliki kepekaan emosional yang juga tinggi."
"Syahid Soleimani adalah kombinasi dari ketekunan dan perlawanan. Ia seorang pejabat tinggi militer namun juga pertapa. Sebagai seorang komandan militer, ia tenggelam dalam kasih ilahi. Ada kombinasi keberanian dan akal dalam dirinya; Dia tidak takut pada musuh dan menyelesaikan masalah dengan pemikiran dan kebijaksanaan." Tambahnya.
Pada bagian lain penyampaiannya, Sayid Mofid Kouhsari mengatakan bahwa Haji Qasim adalah kombinasi dari idealisme dan realisme. Ia berkata, "Sardar Soleimani maju selangkah demi selangkah untuk mencapai cita-citanya dan melalui rencana dan pertimbangan yang jitu. Haji Qasim adalah seorang pembaca dan membawa buku bersamanya di semua perjalanan dan medan perang, dan semua orang menyukai Haji Qasim. Dia ingin mati syahid di jalan Allah, tetapi dia tabah dan sabar. Dia ingin menjadi syahid sejak lebih dari 40 tahun lalu dan akhirnya mencapai mimpinya."
Disebutkan, Panglima Korps Brigade Alquds Iran Letnan Jenderal Qassem Soleimani dan Ketua al-Hasyd al-Syaabi Irak Abu Mahdi al-Muhandis beserta enam orang yang menyertai keduanya gugur dalam sebuah insiden penyerangan pada Jumat (3/1) tahun 2020 lalu di dekat Bandara Internasional Irak. Pentagon mengkonfirmasi serangan tersebut atas perintah langsung Presiden AS Donald Trump. Gugurnya kedua tokoh muqawamah tersebut memicu kemarahan besar rakyat Iran dan juga masyarakat Internasional. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei memerintahkan agar dilakukan tindakan balas atas kepengecutan Amerika Serikat tersebut.